Jumat, 15 Februari 2013

PANTAI KELAPA RAPAT (PANTAI KLARA)


Mungkin pantai Klara masih asing bagi para pecinta wisata bahari di tanah air sekalipun.Untuk mencapai sinihanya ditempuh satu jam lebih dari Bandar Udara Branti Lampung . Sayang sekali pantai ini belumterlalu lama dipromosikan olehPemda Kabupaten Pesawaran yangbaru dibentuktiga tahun lalu sehingga wisatawan hanya mengenal wisata Atraksi Gajah di Pusat Konservasi Gajah di Taman Nasional Way Kambas.


Nama Klara diambil dari kependekan dari Kelapa Rapat. Dimana lokasi pantai ini sangat banyak pohon kelapa yang jaraknya berdekatan sehingga membentuk kanopi atau peneduh bibir pantai. Lokasinya pantai Klarasangat aman tepat di teluk Lampung menghadap Barat Daya. Meskipun jalan menuju kesana tidak terlalu lebar seperti pada umumnya jalan kelas kabupaten, tetapi kondisinya masih mulus dan tidak tampak lubang-lubang yang mengganggu kenyamanan pengendara. Bus wisata ukuran sedang masih sangat nyaman melalui jalan ini. Tetapi apabila berpapasan dengan kendaraan seukuran yang sama harus sedikit mengurangi kecepatan untuk menepi ke bahu jalan.


Suasana pantai berpasir putih yang landai ini sangat cocok untuk berwisata dari semua usia. Ombak di pantai ini dapat dikatakan sama sekali tidak ada karena berapa di teluk Lampung dan sangat jauh dari Samudra Indonesia. Ombak kecil yang mungkin lebih cocok dinamakan riak itu akan sangat memberikan rasa aman apabila membawa balita dan bermain di pantai.
Fasilitas pantai klara antara lain lapangan terbuka yang diteduhi pohon tarusan kelapa , gazebo untuk berteduh, kedai makanan dan minuman, MCK dan lahan parkir yang dapat menapung ratusan kendaraan beserta tenaga pengamanannya.

Untuk wisatawan yang ingin bermalam di sekitar pantai Klara tidak perlu cemas, meskipun di pantai Klara tidak terdapat penginapan, cottages maupun hotel, tepat di seberang pantai Klara terdapat pulau Pahawang yang sedang dikembangkan menjadi tujuan wisata bahari. Hanya dengan menyewa boat dengan jarak tempuh kurang dari 30 menit, kita sudah mencapai pulau Pahawang yang memiliki fasilitas bungalau dan rumah menduduk yang disewakan. Daya tarik wisatanya pun lebih beragam mulai dari kampung nelayan, hutan bakau, pantai berpasir putih sampai, kegiatan memancing, spot untuk snorkling dan diving

sumber : http://www.kaskus.co.id


TELUK KILUAN LAMPUNG

Teluk kiluan saat ini merupakan tujuan wisata yang banyak dipilih orang. Keindahan pantai yang masih alami dan asri merupakan alasan yang tepat untuk memilih teluk kiluan sebagai tempat untuk menjernihkan fikiran. Pemandangan alam yang disajikan pun beraneka ragam. Perpaduan indahnya pegunungan yang menjulang tinggi,batu-batu karang yang terususun secara alami, air laut yang sangat jernih,terumbu karang yang elok,pasir yang putih bersih, dan suasan alam yang tenang menjadikan teluk kiluan primadona wisata lampung. Di pagi hari kawanan lumba-lumba siap menghibur hati para pengunjung dengan tarian-tarian indahnya. Suasana dimalam hari dengan menginap di cottage yang berada diteluk kiluan akan terasa sangat berkesan dengan alunan merdu gemericik ombak yang terdengar dibibir pantai.


Untuk Menuju Pulau Kiluan kurang lebih membutuhkan waktu tiga jam lamanya melalui jalan darat untuk mencapai Ekowisata Teluk Kiluan yang terletak di koordinat S5.749252 E105.192740 dari arah Pelabuhan Bakaehuni, atau kurang lebih sekitar 80 km dari Kota Bandar lampung. Dari Bakaeuhuni kita bisa mengikuti jalur lintas timur Sumatera sampai dengan pertigaan arah Pelabuhan Panjang. Kemudian ambil jalur Pelabuhan Panjang, terus ke arah Lempasing, Mutun dan diujung jalur ini kita akan ketemu Teluk Kiluan. Namun sebelum sampai ke teluk ini, perlu perjuangan ekstra keras, karena tidak semua jalur yang kita lalui beraspal.
Mulai memasuki daerah Lempasing, jalannya menyempit, berkelok-kelok dan naik turun. Kita harus ekstra hati-hati dalam mengendarai mobil ketika melalui jalur ini jika tak mau jatuh ke dalam jurang. Walaupun begitu, kita akan disuguhi pemandangan hijau hutan yang terletak di kanan kiri jalan yang menyejukkan mata. Sesekali akan terlihat lautan luas nan biru yang terlihat dari sebelah kiri tebing-tebing jalan yang kita lalui. Tambak udang juga banyak terlihat di sisi kiri jalan yang langsung berhadapan dengan lautan.  Pemandangan unik lain juga bisa kita lihat di sepanjang jalan ketika ke arah Kiluan. Kurang lebih tiga kilometer sebelum Kiluan ada perkampungan orang Bali, dimana semua kehidupan yang ada di situ persis adanya seperti di Bali. Dari mulai bangunan, tempat ibadah, cara berladang, bermasyarakat sampai dengan proses kehidupan sehari-hari
SUMBER : http://lampungtours.com



DOLPHIN TOUR 




KILUAN ISLAND
(http://www.wisatakiluan.com)





Selasa, 12 Februari 2013

PRAMBANAN TEMPLE



Prambanan temple is extraordinarily beautiful building constructed in the tenth century during the reigns of two kings namely Rakai Pikatan and Rakai Balitung. Soaring up to 47 meters (5 meters higher thanBorobudur temple), the foundation of this temple has fulfilled the desire of the founder to show Hindu triumph in Java Island. This temple is located 17 kilometers from the city center, among an area that now functions as beautiful park.

There is a legend that Javanese people always tell about this temple. As the story tells, there was a man named Bandung Bondowoso who loved Roro Jonggrang. To refuse his love, Jonggrang asked Bondowoso to make her a temple with 1,000 statues only in one-night time. The request was nearly fulfilled when Jonggrang asked the villagers to pound rice and to set a fire in order to look like morning had broken. Feeling to be cheated, Bondowoso who only completed 999 statues cursed Jonggrang to be the thousandth statue.
Prambanan temple has three main temples in the primary yard, namely Vishnu, Brahma, and Shiva temples. Those three temples are symbols ofTrimurti in Hindu belief. All of them face to the east. Each main temple has accompanying temple facing to the west, namely Nandini for Shiva, Angsa for Brahma, and Garuda for Vishnu. Besides, there are 2 flank temples, 4 kelir temples and 4 corner temples. In the second area, there are 224 temples.

Entering Shiva temple, the highest temple and is located in the middle, you will find four rooms. One main room contains Shiva statue, while the other three rooms contain the statues of Durga (Shiva's wife), Agastya (Shiva's teacher), and Ganesha (Shiva's son). Durga statue is said to be the statue of Roro Jonggrang in the above legend.
In Vishnu temple, to the north of Shiva temple, you will find only one room with Vishnu statue in it. In Brahma temple, to the south of Shiva temple, you find only room as well with Brahma statue in it.

Quite attractive accompanying temple is Garuda temple that is located close to Vishnu temple. This temple keeps a story of half-bird human being named Garuda. Garuda is a mystical bird in Hindu mythology. The figure is of golden body, white face, red wings, with the beak and wings similar to eagle's. It is assumed that the figure is Hindu adaptation of Bennu (means 'rises' or 'shines') that is associated with the god of the Sun or Re in Old Egypt mythology or Phoenix in Old Greek mythology. Garuda succeeded in saving his mother from the curse of Aruna (Garuda's handicapped brother) by stealing Tirta Amerta (the sacred water of the gods).

Its ability to save her mother made many people admire it to the present time and it is used for various purposes. Indonesia uses the bird as the symbol of the country. Other country using the same symbol is Thailand, with the same reason but different form adaptation and appearance. In Thailand, Garuda is known as Krut or Pha Krut.
Prambanan also has panels of relief describing the story of Ramayana. Experts say that the relief is similar to the story of Ramayana that is told orally from generation to generation. Another interesting relief is Kalpataru tree that - in Hindu - the tree is considered tree of life, eternity and environment harmony. In Prambanan, relief of Kalpataru tree is described as flanking a lion. The presence of this tree makes experts consider that Javanese society in the ninth century had wisdom to manage its environment.

Just like Garuda, Kalpataru tree is also used for various purposes. In Indonesia, Kalpataru is used as the logo of Indonesian Environment Institution. Some intellectuals in Bali even develop "Tri Hita Karana" concept for environment conservation by seeing Kalpataru relief in this temple. This tree of life is also seen in the gunungan (the puppet used as an opening of traditional puppet show or wayang kulit). This proves that relief panels in Prambanan have been widely known throughout the world.
If you see the relief in detail, you will see many birds on them; they are real birds as we can see on the earth right now. Relief panels of such birds are so natural that biologists can identify their genus. One of them is the relief of the Yellow-Crest Parrot (Cacatua sulphurea) that cites unanswered question. The reason is that the bird only exists in Masakambing Island, an island in the middle of Java Sea. Then, did the bird exist in Yogyakarta? No body has succeeded in revealing the mystery.

You can discover many more things in Prambanan. You can see relief of Wiracarita Ramayana based on oral tradition. If you feel tired of enjoying the relief, you can take a rest in the beautiful garden in the complex. Since 18 September 2006, you can enter zone 1 area of Prambanan temple. The damage caused by the earthquake on 27 May 2006 is being reconstructed. Please come and enjoy Prambanan temple..

Sumber : YogYes.com



MALIOBORO (Down The Road of Flower Bouquet and Souvenir Paradise in The Heart of Jogja)



The sun was beating down as thousands of people crowded along Malioboro street. They did not just stand on the sidewalk but they ran over up to the road. The atmosphere was so noisy and hectic. Bubbling laughter, screaming car horns, the strains of gamelan cassette, up to shouting traders selling food and toys for children blended into one. After waiting for hours, finally, the expected carnival troupe appeared. Started by Bregada Prajurit Lombok Abang, royal carriage convoy began to walk slowly. All squeezing wanted to see the couple of GKR Bendara and KPH Yudhanegara who continuosly waved and spreaded a friendly smile.

That scene was seen as the party of Kirab Pawiwahan Ageng of Sultan Hamengku Buwono X's youngest daughter from Yogyakarta Palace headed to Bangsal Kepatihan. Thousands of people crammed filling Malioboro Street that stretches from north to south. In Sanskrit, Malioboro means flower bouquets because in the ancient times when the Palace held an event, a mile-long road would be filled with flower bouquets. Although time passed and the era has changed, Malioboro position as the main street where a variety of carnival and celebration being held has never changed. Until now Malioboro, Vredeburg Fort, and Zero Point remain a venue for a variety of carnival starting from the event of Jogja Java Carnival, Chinese Cultural Week, Yogyakarta Arts Festival, Carnival Malioboro, and many others.

Before it turned into a busy street, Malioboro was a quiet road with a tamarind tree growing on the right and left. This road was just passed by people who wanted to go to the Palace or complex areas such as First Indische first in Yogyakarta, for instance, Loji Besar (Vredeburg Fort), Loji Kecil (area next to the Great Hall/Gedung Agung), Loji Kebon (Great Hall/Gedung Agung), as well as Loji Setan (Office of the Parliament/DPRD office). But the existence of Pasar Gede or Beringharjo Market on the south side and the presence of Chinese ethnic residential in Ketandan area gradually boosted the economy in the region. Chinese group made Malioboro as its business canal, so the trade area which was originally based in Beringharjo and Chinatown eventually expanded to the north to Stasiun Tugu (Tugu Train Station). Seeing Malioboro rapidly growing into the pulse of trade and shopping centers, a friend said that Malioboro is the baby talk for "mari yok borong (let’s buy a lot)". In malioboro you can buy desirable range of merchandise ranging from beautiful accessories, unique souvenirs, classic batik, gold and gems to household appliances. For souvenir fans, Malioboro can be a fun hunting paradise. Walking on the shoulder of the road while bargaining a variety of goods sold by street vendors, will be a special experience. Variety of locally made souvenirs like batik, rattan ornament, silver, bamboo handicrafts, leather puppets, blangkon, miniature of traditional vehicles, accessories, until key chains, all can be found easily. If you are good in bargaining, these items can be taken home with a fairly cheap price.

Besides being a trading center, the road which is part of the imaginary axis that connects Parangtritis Beach, Panggung Krapyak, Yogyakarta Palace, Tugu, and Mount Merapi was once a nest as well as perfoming stage by Malioboro artists lead by Umbu Landu Paranggi. From them also, the culture of sitting on the sidewalk was popularized that eventually rooted and is identical to Malioboro. Enjoying a romantic dinner in the sitting stalls while listening to other street artist singing the song "Yogyakarta" from Kla Project will be an experience that is marked in heart. Malioboro is a series of history, stories and memories that are intertwined in the minds of every person who ever visited. The charm of this road had never faded by time. The exoticism of Malioboro continues glowing until now and inspires many people, and forces them to keep coming back to Yogyakarta. As beginning sentence in Melodia poem created by Umbu Landu Paranggi "Love that makes me feel at home occasionally lasts", memories and love of many people towards Malioboro that makes this road continues persisting until now.


Information:
Carnival and the events taking place in the area of Malioboro are normally incidental to the perfomance time that is uncertain. But there are some activities that are regularly held every year such as Jogja Java Carnival that is always held every October, the Yogyakarta Arts Festival in June to July, and the Chinese Cultural Week held close to the celebration of Chinese New Year (Imlek).

Sumber: YogYes.com



Keelokan Danau Ranau Lampung


Ranau adalah danau vulkanik  yang dikelilingi Gunung Seminung. Terletak antara dua Propinsi: Lampung dan Sumatera Selatan. Separuh berada di Kecamatan Lombok dan Sukau –Lampung Barat dan separuh lagi di Ogan Komaring Ulu - Palembang.Sekilas tampak terpencil. Terlihat dari peta Google yang untuk sampai ke tempat ini kita perlu melintas pebukitan, pohon rimbun dengan jalan berliku. Namun jangan tertipu oleh pemandangan dari atas karena akses menuju Ranau relatih mudah dengan kondisi jalan mulus.
Dari Bandar Lampung kami melalui rute Gunung Sugih, Banjit, Batu Brak,  akhirnyaSukau. Pemilihan rute ini atas nasihat Mas Yopie seorang penggiat wisata Lampung. Walau ingin sedikit bertualang namun keselamatan tetap utama. Mas Yopie mengatakan jalan ke sana aman dan butuh waktu sekitar 6 jam kalau berkendera dengan kecepatan sedang. Malah seorang warga Liwa – jalur yang mesti dilewati–meyakinkan bahwa dia sering pulang kampung malam hari dengan sepeda motor.


Walau jalan sepi dan bagus namun harus tetap hati-hati. Jangan tergoda memacu kendaraan lebih dari 60 KM/jamBadan jalan cuma pas untuk dua mobil dan bentuknyaberlekuk seperti mie keriting. Bahkan di beberapa tempat ada belokan sangat tajam.Maklum kita kan sedang melintasi punggung Bukit Barisan. Belum lagi jurang di tepi. Walau tersamar semak belukar mengintip sedikit ke bawah sudah bertemu mulut raksasa yang sedang mengaga. Belum lagi dinding granit dan tanah merah dari badan gunung yang siap menyapa di sana-sini.
Masuk kawasan Bukit Kemuning-Liwa yang di mulai dari Abung Baratmeluncur terus sampai Mura Dua, Sumber Jaya dan Sukau hanya bertemu hutan dan hutan. Cumasesekali terlihat satu atau dua rumahSaya sering membuka kaca mobil untukmendengar suara-suara  dari balik rimbun pepohonan. Dada begitu nyaman saat angin membawa kelebatan aroma tanah dan tumbuhanTerlihat juga monyet-monyetbecengkerama dan menyusui anak di ranting. Selebihnya hanya kesunyian dan suara mesin mobil. Ada sesekali berpapasan dengan bus dan kendaraan pengangkut hasil pertanian dari pedalaman sehingga tidak merasa tidak begitu terasing.


Tapi perjalanan dari Bandar Lampung menuju Danau Ranau tidak selalu menembus hutan. Menjelang sore kami melewati kampung dengan sawah berpetak teratur seperti dibuat dengan penggarisan. Pohon kelapa tumbuh di pematangnya. Cahaya tembaga yang jatuh membuat pemandangan seperti keluar dari lukisan. Mengingatkan saya pada pelajaran seni lukis di SD dulu yang komposisinya terdiri gunung, sawah dan pohon kelapa. Tambah eksotis saat berpadu dengan rumah panggung kayu yang berjejer di keheningan. Di beranda tampak ibu dan anak-anak lenggahan memandang jalan menunggu Magrib tiba.


Lukul lima  kami sampai dan perjalanan langsung terbayar lunas. Walau pakai acara nyasar ke Kota Batue, akhirnya Pak Sato tersenyum menyambut di pelataran Wisma Satria. Jangan berharap menemukan hotel mewah seperti di Bedugul disiniSekedar penginapan sederhana, rumah penduduk yang dijadikan homestay seperti rumah Pak Sato jumlahnya cukup banyak. Ada juga juga yang di kelola Dinas Perikanan Lampung Barat dan satu lagi Hotel Seminung.

Walau akses jalan relatif mudah, mungkin karena jauh atau kurang fasilitas, tampaknya wisata Danau Ranau belum banyak peminat. Terbukti sore itu satu-satunya pengunjungdi tepi Ranau hanya keluarga saya. Begitu pula saat memesan ikan nila bakar di Gayun Lesehan, sejauh mata memandang hanya ada kerlip lampu dari jukung dan perahu nelayan di tengah danau. Tapi syahdunya jangan di kata lagi. Anak-anak saya yang biasanya berisik duduk membisu sambil sesekali mengarahkan camera HP ke tengah danau. Kami berempat cuma sibuk memaknai panorama alam itu dalampikiran masing-masing.

 Bila ada yang tahu cerita rakyat Sumtera Selatan, Si Pahit Lidah, Ranau adalah persinggahan pertama Serunting alias Si Pahit Lidah setelah bertapa bertahun-tahunbertapa di gunung dalam rangka mencari kesaktian. Di tepi Danau ini untuk pertama kali juga Serunting menjajal ilmunya yakni merubah pohon bamu jadi batu.

Sumber : kompasiana.com


Minggu, 10 Februari 2013

GONG XI PA CHAI 2564 (Singkawang, "Kota China" di Bumi Nusantara)

SINGKAWANG sering disebut sebagai kota seribu klenteng. Kota yang berada di Kalimantan Barat ini mempunyai ikatan yang erat dengan China, baik dari sejarah maupun budaya maupun kehidupan bermasyarakat. Tak heran jika Singkawang disebut-sebut mewakili "Kota China" yang ada di bumi nusantara.
Di tanah seluas 50.000 ha ini, total populasi penduduk di Singkawang lebih dari 190.000 jiwa, separuhnya beretnis Tionghoa dan berdiri kokoh sedikitnya 600 klenteng. Konon, pada abad 18, kota tersebut merupakan tempat transit para penambang emas yang berasal dari Tiongkok. Gelombang migrasi besar-besaran pada tahun 1760, membawa masyarakat suku Tionghoa Hakka dari Guangdong China selatan yang mendarat di Pulau Kalimantan. Daerah tempat persinggahan ini kerap disebut sebagai "San Kew Jong" yang lama kelamaan berubah bunyi menjadi Singkawang.
Para pekerja tambang ini berasumsi, dari sisi geografis bahwa Singkawang yang berbatasan langsung dengan laut Natuna serta terdapat pengunungan dan sungai, dimana airnya mengalir dari pegunungan melalui sungai menuju ke muara laut. Melihat perkembangan Singkawang yang dinilai oleh mereka yang cukup menjanjikan, sebagian besar penambang tersebut beralih profesi ada yang menjadi petani dan pedagang di kota tersebut. Tak sedikit para penambang tersebut yang akhirnya tinggal dan menetap di Singkawang.
Adat Leluhur
Meski secara fisik maupun budaya ada yang berasimilasi dengan penduduk pribumi, mereka juga tetap mempertahankan adat istiadat leluhur yang dipertahankan hingga kini. Karena pada umumnya mereka penganut Kong Hu Cu dan Buddha maka perayaan Tahun Baru China menjadi tradisi istimewa yang senantiasa mereka rayakan.
Saat perayaan Tahun Baru Cina dan Cap Gomeh berlangsung, Singkawang yang juga kaya potensi wisata alamnya ini menjadi kota yang paling ramai untuk merayakannya. Banyak kegiatan-kegiatan atraktif dilaksanakan dalam acara ini mulai dari pertunjukan barongsai, pawai tatung, bakar kapal/perahu naga, pertunjukan seni tari dan sebagainya. Tidak heran, saat suasana Imlek biasanya kota mungil itu mampu menyedot wisatawan dari manca negara.
Seperti halnya tradisi etnis Tionghoa di Semarang, bagi warga peranakan di Singkawang perayaan Imlek selalu dirayakan selama 15 hari berturut-turut dan hari puncak ke-15 disebut dengan Cap Go Meh. Dalam tradisi Tionghoa berarti malam ke-15 yang merupakan puncak perayaan Imlek dan Cap Go Meh dirayakan secara khusus. Jika ditelaah kembali, Cap Go Meh di Indonesia sendiri merupakan perpaduan budaya Tiongkok dan Indonesia, yakni adanya lontong Cap Go Meh. Lontong adalah makanan asli Indonesia, sedangkan Cap Go Meh adalah tradisi yang lahir dari Imlek.
Sumber : suaramerdeka.com



Kamis, 07 Februari 2013

Seruit, makanan tradisional yang eksklusif khas Lampung

Mendengar judul di atas, mungkin membuat pembaca agak heran. Jangankan pernah mencicipi, pernah dengar tentang makanan inipun tidak pernah. Ya, oleh karena itu saya katakan “eksklusif” karena hanya orang Lampung saja yang tau makanan ini. Sangat jarang orang yang bukan suku Lampung mengenalnya.
Sebenarnya Seruit atau Kalau lidah orang lampung sering menyebutnya “seruwit”, adalah makanan khas orang Lampung. Yang uniknya dari makanan ini adalah, diracik ketika akan di makan dan harus habis saat itu juga. Dan tentu saja, makannya harus pakai nasi.

Cara makannya pun unik, Seruwit yang sudah jadi (dalam satu wadah) di makan bersama-sama. Caranya, kucuk kikim (daun singkong rebus) diambil secukupnya, lalu dicocol kedalam seruwit. Setelah itu, ditaruh pada sesuap nasi, dan Hap,, langsung dimakan. Biasanya, sambil mengunyah didalam mulut, lalapan mentah juga ikut dimakan berbarengan. Dan Rasanya, benar2 luar biasa sensasinya.

Saya sebagai orang Lampung terkadang sangat merindukan momen nyeruwit ini. Terus terang, seruwit memang seru. Kenapa, karena pada saat inilah biasanya sekeluarga bahkan sekeluarga besar berkumpul. Duduk di tikar besar bersama dan makan bersama. atau Terkadang pula, berkumpul bersama teman-teman sambil nyeruwit.

Oleh karena itu, dapat saya katakan nyeruwit berarti kebersamaan. Bagi orang Lampung nyeruwit mungkin bisa dianalogikan dengan upacara minum teh di Jepang. meskipun tidak sesakral upacara minum teh di Jepang. Tapi inilah salah satu kebudayaan yang tiada duanya di dunia.

Tapi sayangnya, lagi-lagi pemerintah tidak pernah melihat ini. Menurut saya, kalau pemerintah, terutama Pemda mau peduli, Seruwit dan acara Nyeruwit mungkin bisa menjadi aset wisata unggulan. Coba kalau misalkan diadakan “Festival Seruwit”. Ha ha ha, pasti Seru!”

Selain bisa memperkenalkan kebudayaan lokal, dengan diadakannya acara-acara seperti itu, juga merupakan sarana untuk mempertahankan kebudayaan yang entah sampai kapan bisa bertahan. Memang hari ini masih banyak keluarga-keluarga Lampung yang masih mempertahankan Tradisi seruwit, tapi bagaimana 10 atau 20 tahun lagi? kenal seruwit pun tidak lagi barangkali.

Mengapa Seruit Kurang dikenal?

Mengapa seruwit Lampung tidak terkenal dan kalah pamor sama kemplang atau keripik? banyak sekali faktor yang menyebabkan seperti itu.

Seruwit adalah makanan yang tidak awet, sehingga untuk dijadikan oleh-oleh keluar daerah tidak mungkin. Sedangkan kemplang, setiap anak-anak Lampung yang keluar daerah, habis pulang kampung, biasanya bawa oleh-oleh kemplang atau keripik untuk teman-temannya. Itulah yang membuat kemplang atau keripik terkenal dibanding seruwit.

Seruwit kasusnya sama dengan gudeg di Jogjakarta, sama-sama tak awet, tapi gudeg lebih terkenal.

Seruwit akan terkenal jika:

Yang Pertama, Di Lampung ada banyak warung yang menawarkan masakan khas Lampung, sehingga setiap pelancong yang datang, akan mencicipi seruit, dan lambat laun seruit Lampung akan terkenal. Sekarang kenyataannya dapat kita lihat, di BandarLampung sendiri sangat sulit menemukan warung khas Lampung. Yang ada adalah Masakan Minang, Wong Jowo, Warung Pempek. Lapo Tuak. Belum pernah saya lihat ada “Kedai Seruwit”.

Terkadang Saya sulit membayangkan, pelancong jauh-jauh dari Padang ke Lampung hanya untuk makan Rendang Padang. Atau orang Jawa jauh-jauh menyeberang hanya untuk makan Soto, Sate, Pecel. atau Orang Palembang ke Lampung Untuk makan empek-empek Palembang. Sama Sekali Tiada kesan untuk kulinernya. Karena bagaimanapun Lebih Enak makanan di tempat Sumber Asalnya.
Yang kedua, Ada warung-warung makanan khas Lampung diluar daerah, misal di DIY, DKI, Tangerang, Surabaya, Medan dan lain-lain, yang menawarkan seruit. Sehingga seruit juga akan terkenal didaerah-daerah tersebut.

Sekarang, pernahkah kita melihat warung-warung atau rumah makan seperti yang saya katakan diatas? tentu belum atau jarang. Itulah yang buat seruwit tak terkenal.

Dan Yang Terakhir, Seruit adalah makanan “Eksklusif”. Hanya orang Lampung Saja yang mau melakukannya. Selama ini Kalaupun ada orang Non Lampung yang ikut nyeruwit, itu karena dia berada ditengah-tengah komunitas Lampung. Seruwit akan terkenal jika bisa dilakukan oleh orang-orang Non Lampung. Namun Seruwit berbeda dari Rendang, pempek, Soto dll. Kalau kita mau buat Rendang, Bisa kita catat resepnya dan kita praktikkan di rumah. Sedangkan Seruwit? kita bisa catat resepnya namun untuk mempraktekkannya tentu sangat sulit bagi orang NonLampung. Semua itu karena Seruwit bukan sekedar Makanan, namun Ia adalah bagian dari Tradisi dan Kebudayaan. Yang sangat sulit dipraktikkan pada orang selain Lampung.

Namun Bagaimanpun Juga, Seruwit sebagai makanan maupun tradisi merupakan tanggung jawab kita semua untuk menjaganya. Memang, sekarang kita tidak menganggapnya Penting, dan kita tidak peduli. Tapi haruskah ada negara lain yang Mengklaim Seruit baru mata kita bisa terbuka. Saya Rasa itu bukan pemikiran yang bijak.

Cara Membuat Seruwit
Dari tadi, bicara tentang seruwit , tapi seruwit itu apa sih? mungkin teman-teman yang bukan suku Lampung agak bingung. Ini dia Seruwit:
Bahan-Bahan Seruwit:
  • Ikan (Bisa Goreng atau Panggang. Ikannya ikan Patin, Mas atau Baung. Ikan lain juga Boleh, tergantung selera. Tapi saran Saya, ikan yang sudah saya sebutkan itulah yang enak)
  • Sambal Terasi
  • Terong ungu Panggang
  • Limau Kunci (bisa diganti Kedondong hutan)
  • Isi Timun
  • Tempoyak
  • Garam (kalau kurang asin)
  • Air Secukupnya

Lalap rebus:
  • Daun Singkong Rebus (bisa diganti daun Pepaya, kangkung atau bayem)
  • Lalap Mentah:
  • Timun
  • Jengkol (Bisa diganti Petai)
  • Pucuk daun Jambu Mente
  • Kacang Panjang
  • Jinar (Sejenis Jahe)
  • Wortel
  • Kemangi

Cara Meracik :
  • Semua Bahan Seruit di campur dalam satu wadah. Diaduk dengan Tangan bersih.


Sumber : http://lampunggech.blogspot.com