Dari Bandar Lampung kami melalui rute Gunung Sugih, Banjit, Batu Brak, akhirnyaSukau. Pemilihan rute ini atas nasihat Mas Yopie seorang penggiat wisata Lampung. Walau ingin sedikit bertualang namun keselamatan tetap utama. Mas Yopie mengatakan jalan ke sana aman dan butuh waktu sekitar 6 jam kalau berkendera dengan kecepatan sedang. Malah seorang warga Liwa – jalur yang mesti dilewati–meyakinkan bahwa dia sering pulang kampung malam hari dengan sepeda motor.
Masuk kawasan Bukit Kemuning-Liwa yang di mulai dari Abung Barat, meluncur terus sampai Mura Dua, Sumber Jaya dan Sukau hanya bertemu hutan dan hutan. Cumasesekali terlihat satu atau dua rumah. Saya sering membuka kaca mobil untukmendengar suara-suara dari balik rimbun pepohonan. Dada begitu nyaman saat angin membawa kelebatan aroma tanah dan tumbuhan. Terlihat juga monyet-monyetbecengkerama dan menyusui anak di ranting. Selebihnya hanya kesunyian dan suara mesin mobil. Ada sesekali berpapasan dengan bus dan kendaraan pengangkut hasil pertanian dari pedalaman sehingga tidak merasa tidak begitu terasing.
Tapi perjalanan dari Bandar Lampung menuju Danau Ranau tidak selalu menembus hutan. Menjelang sore kami melewati kampung dengan sawah berpetak teratur seperti dibuat dengan penggarisan. Pohon kelapa tumbuh di pematangnya. Cahaya tembaga yang jatuh membuat pemandangan seperti keluar dari lukisan. Mengingatkan saya pada pelajaran seni lukis di SD dulu yang komposisinya terdiri gunung, sawah dan pohon kelapa. Tambah eksotis saat berpadu dengan rumah panggung kayu yang berjejer di keheningan. Di beranda tampak ibu dan anak-anak lenggahan memandang jalan menunggu Magrib tiba.
Lukul lima kami sampai dan perjalanan langsung terbayar lunas. Walau pakai acara nyasar ke Kota Batue, akhirnya Pak Sato tersenyum menyambut di pelataran Wisma Satria. Jangan berharap menemukan hotel mewah seperti di Bedugul disini. Sekedar penginapan sederhana, rumah penduduk yang dijadikan homestay seperti rumah Pak Sato jumlahnya cukup banyak. Ada juga juga yang di kelola Dinas Perikanan Lampung Barat dan satu lagi Hotel Seminung.

Bila ada yang tahu cerita rakyat Sumtera Selatan, Si Pahit Lidah, Ranau adalah persinggahan pertama Serunting alias Si Pahit Lidah setelah bertapa bertahun-tahunbertapa di gunung dalam rangka mencari kesaktian. Di tepi Danau ini untuk pertama kali juga Serunting menjajal ilmunya yakni merubah pohon bamu jadi batu.
Sumber : kompasiana.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar